APAKAH RUMAH TANGGA ITU?
Rumah tangga bukanlah gedung atau bangunan. Rumah tangga lebih daripada bangunan beton. Rumah tangga ialah satu tempat di mana terdapat ayah, ibu dan anak-anak yang saling mengasihi, saling menghormati, saling membantu dan hidup dalam suasana damai dan rukun.
Lembaga rumah tangga bukan hanya perlu untuk anggota keluarga itu saja,
tetapi memiliki bermacam kegiatan yang juga mempengaruhi sesamanya.
Pria dan wanita saling mencintai sehingga mereka ingin hidup bersama
dalam segala segi kehidupan. Inilah
alasan yang kuat mengapa pernikahan, sebagai suatu hubungan istimewa diperlukan sekali.
Oleh sebab itu sebelum mendirikan bahtera
pernikahan, kedua calon suami isteri harus memiliki rencana hari depan. Tidak sedikit orang yang setelah menikah
sekian lama baru saling tuduh menuduh dan menyalahkan. Mereka menikah tanpa rencana yang
matang. Mereka menyesal namun sudah
terlambat, nasi telah menjadi bubur.
Didalam pernikahan, suami-isteri menetapkan tujuan bersama dan hal ini
dilaksanakan oleh dua partner, cita-cita mana tidak mungkin dicapai oleh
seorang diri saja. Mereka perlu memahami
cita-cita itu dan mengerti mengenai persekutuan pernikahan.
Suami haruslah lebih merapatkan diri kepada isteri daripada kepada
ibu-bapa, sekalipun sukar ditinggalkan pengaruh kasih-sayang mereka.
Demikianpun wanita yang telah menjadi isteri itu harus meninggalkan orang tua dan berdamping dengan pria yang telah diakuinya menjadi suami.
Semakin erat pasangan baru merapatkan diri satu sama lain, lebih rukunlah rumah tangga baru itu. Dalam satu buku yang ditulis oleh seorang tokoh terdapat keterangan berikut: “Ikatan kekeluargaan adalah yang ter-erat dan tersuci dari segala ikatan apa sajapun di atas muka bumi ini.”
Jadi hubungan suami isteri adalah lebih istimewa dari segala hubungan
yang pernah diadakan oleh manusia.
Itulah sebabnya seorang penulis yang kenamaan berkata: “Memilih dan
menentukan teman hidup itu adalah masalah yang penting”.
Perkara
menentukan teman hidup itu lebih penting
dari segala sesuatu di atas dunia, kecuali memilih Tuhan atau agama.
Salah memilih jodoh, sama seperti seorang yang telah salah membuat
fundasi rumah yang hendak dibangun.
Sekalipun bagaimana kuatnya dinding dan bahan lainnya yang dipergunakan
di bahagian atas rumah itu, satu kali kelak akan ketahuan bahwa fondasi rumah
yang mentereng tersebut tidak kuat. Oleh
sebab itu biarlah seorang pria memilih calon teman hidupnya seorang wanita
bukan karena cantik semata, melainkan karena tabiat yang agung dan yang dapat
mendampingi suaminya serta sanggup memberi kesenangan bagi pasangannya. Demikian juga seorang wanita yang bijaksana,
akan memilih calon suaminya yaitu seorang pria bukannya karena gagah dan
memiliki wajah yang tampan dan mempunyai banyak uang saja, melainkan pria atau
pemuda yang bertanggung jawab, jujur, manis budi, dan seorang yang beribadah kepada Tuhan Allah.
Saling Menolong
“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”, karena
suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana
Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”. (Efesus
5:22-23;25).
“Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di
udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan
dengan dia”.
Rencana beranak cucu datangnya dari Allah. Ia ingin agar bumi ini dihuni oleh manusia
serta menaklukkan(memerintah) segala isinya.
Beranak cucu yang baik dan disetujui Tuhan ialah melalui pernikahan yang
kudus. Allah hanya menyetujui pernikahan
yang sah. Hal ini tegas karena dalam
hukum Allah yang ketujuh Tuhan melarangnya, “Jangan kamu berbuat zinah”. Semua hubungan kelamin/seks yang bukan antara
suami-isteri adalah dosa dihadapan Tuhan.
Merasakan kebutuhan seks bukan dosa. Nafsu yang tidak dikendalikan yang
mengakibatkan perzinahan itulah dosa.
Perhubungan seks antara suami-isteri bukanlah dosa,
dan hanya perhubungan seks antara mereka itulah yang disetujui Tuhan.
Kebutuhan kepuasan seks ini dirasakan oleh setiap orang yang
normal. Banyak orang suka
berterus-terang atas kebutuhannya, tetapi yang lain mau menutup-nutupinya.
Sering dorongan seks ini tak dapat dikendalikan oleh seseorang sehingga
terjadilah peristiwa-peristiwa yang memalukan masyarakat. Penyelewengan, perzinahan, perkosaan sering terjadi
hanya karena kebutuhan kepuasan seks yang sudah melampaui batas.
Melalui pengalaman cinta terhadap isteri, seorang suami akan lebih mudah memupuk kasihnya terhadap Penciptanya. Walaupun seorang yang tak berumah tangga dapat mencintai Allah, namun proses mencintai Tuhan itu akan lebih mudah bagi mereka yang sudah mengalami cinta suami-isteri.
Henokh lebih mengerti cinta Allah setelah ia sendiri dikaruniakan seorang anak yang
dicintainya. Henokh lebih mengerti
kesabaran Tuhan, setelah ia mengalami merawat serta mendidik Metusalah, anaknya
itu.
Nabi Hosea lebih mengenal cinta Allah yang luar biasa setelah Hosea
disuruh mengambil kembali isterinya yang sudah menyeleweng. Mengambil Gomer kembali setelah punya anak
lagi dari laki-laki lain, sangat berat bagi Hosea.
Lebih sukar lagi bagi Hosea, karena perempuan
sundal bekas isterinya itu harus dibeli.
“Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang
suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel,
sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis. Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran
lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai”. (Hosea 3:1-2).
Orang tua tersebut akan merasa terjamin karena mengetahui anaknya
menilik dia. ==o==
Komentar
Posting Komentar