Tabiat Merupakan Mutu Jiwa.


Pendahuluan:

   Seorang ayah di California memiliki dua orang anak perempuan yang masih remaja (teenager). Salah seorang diantaranya berwajah cantik dan menarik sedangkan yang satu lagi berwajah sederhana.  Pada suatu hari mereka mau berangkat ke sekolah.

   Anak yang berwajah cantik menunjukkan wajah saudaranya yang tidak cantik itu didepan kaca. Tentu saja dia mengeluh karena menerima penghinaan dari saudaranya sendiri.

   Kemudian ayahnya mendengar hal itu. Sebagai gantinya marah, ayahnya hanya memberi nasehat kepada kedua putrinya, katanya: “Saya ingin kamu berdua, coba melihat dirinya masing-masing setiap hari di depan kaca.  Kamu putriku yang cantik, agar kamu ingat bahwa wajahmu yang cantik itu tidak dihargai kalau kamu tidak mempunyai keindahan tabiat. Kecantikan akan hilang bila tindakanmu buruk.  Kemudian, kamu putriku yang sederhana, kamu boleh menyembunyikan kekuranganmu dengan menghidupan satu keindahan tabiat.

   Mari kita coba baca Ayub 8:18...”memiliki hikmat adalah lebih baik dari pada mutiara...”

   Harta yang dapat kita bawa dari dunia ini ke dunia yang akan datang ialah: Tabiat yang dibentuk sesuai dengan peta Ilahi.

   Mentaati nasehat Kristus di dunia ini.

   Apakah tabiat itu?.  Kemampuan mental atau kecerdasan bukanlah tabiat. Karena ini bisa dimiliki orang-orang yang tindakannya bertentangan dengan kehendak Allah.

   Nama baik—bukanlah tabiat.  Tabiat yang benar adalah MUTU JIWA yang dapat dinyatakan melalui pembawaan seseorang.

   Tabiat yang baik merupakan modal yang lebih berharga daripada emas atau perak.  Tabiat yang baik tidak dapat dipengaruhi kepanikan atau kegagalan.

   Apabila segala harta duniawi ini dilenyapkan, tabiat itu memberi keuntungan yang berlimpah.

   Contoh: Kalau seseorang bangkrut dalam usaha?.

   Kita perlu mempertumbuhan: Kejujuran, keteguhan dan ketabahan. Sifat-sifat ini akan menjadikan kita kuat untuk melakukan yang baik, kuat menolak kejahatan.

   Kekuatan tabiat terdiri atas 2 hal:

1.  Kuasa kemauan, dan

2.  Kuasa pengendalian diri.

Contoh:

   Bagi orang muda. Kendalikanlah nafsu demi kekuatan tabiat.

   Jangan salah menggunakan kekuatan.  Pilipi 4:8 “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap di dengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

   Kesimpulan:

   Kebesaran manusia di ukur dengan kuasanya untuk menaklukkan perasaannya, dan mau mengampuni musuhnya. Tuhan memberkati kita. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBADAH MEMASUKI RUMAH BARU

LYRIC LAGU (2)

Keyakinan Menghadapi Tahun Baru.