SUNATLAH HATIMU
Sunat bagi orang Yahudi bukanlah merupakan peristiwa biasa melainkan sebagai hal istimewa karena merupakan PERJANJIAN, antara Allah dan manusia. (Kej. 17:10-11).
Peraturan sunat ini ada sejak Abraham yang
dimulai dari penyunatan Ishak ketika berumur 8 hari dan akhirnya dilaksanakan
secara turun-temurun oleh bangsa Yahudi penganut agama Yahudi dan sunat ini
masuk dalam aturan adat-istiadat Yahudi dan Hukum Taurat.
Yesus pun yang terlahir sebagai orang
Yahudi, disunat pada usia 8 hari (Luk. 2:21). Yesus Kristus sebagai manusia
seutuhnya dan sebagai orang Yahudi, taat pada aturan dan adat-istiadat Yahudi.
Lalu bagaimana dengan ungkapan ‘sunatlah hatimu’ yang ada dalam kitab Ul. 10:16 ?
Ungkapan sunatlah hatimu juga dapat kita temukan dalam kitab lainya, “Sunatlah
dirimu bagi Tuhan, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu, hai orang Yehuda dan
penduduk Yerusalem, supaya jangan murka-Ku mengamuk seperti api, dan
menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu
yang jahat” (Yer. 4:4).
Ungkapan ‘sunatlah hatimu” mungkin membawa
kita pada sebuah perenungan yang mendalam akan sebuah pertanyaan, “bagian hati manakah yang perlu
dibuang?”
Ada bagian hati yang perlu ‘dipotong’ agar
tidak menjadi tempat di mana kotoran dapat tinggal dan merusaknya serta
kemudian dapat ikut merusak tubuh secara keseluruhan.
Tuhan menghendaki dan meminta kita agar
menyunatkan hati kita. ‘Kulit khatan’
pembungkus hati kita perlu dibuang, agar hati kita nampak telanjang dan bersih
di hadapan-Nya, tanpa satupun yang tersembunyi.
Inilah sunat hati/rohani yang mesti kita
lakukan dalam setiap mereka yang menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya.
Apalah artinya semua itu bila hati kita
belum bersih?
Semuanya belumlah cukup bila kita tak berani
menyunatkan hati kita, menanggalkan
bagian hati dan hidup kita yang penuh dosa, yang masih menyimpan: kebencian dan
kekecewaan masih membelenggu; iri hati dan ketamakan terus menguasai diri kita;
percabulan dan hawa nafsu; penyembahan berhala; sihir; perseteruan;
perselisihan; kemabukan dan pesta pora (bdk. Gal. 5:19-21).
Allah
menghendaki dan meminta kita, “sunatlah hatimu dan jangan lagi bertegar hati”
(Ul. 10:16). Yang tampak lahiriah bisa saja disembunyikan, namun di hadapan-Nya
tidak ada yang tersembunyi.
Dan seperti Yesus yang menyuruh Petrus untuk
memancing ikan di danau untuk mengambil mata uang empat dirham di dalam perut
Ikan itu (Mat. 17:27), semoga di dalam
diri kita masing-masing pun dapat ditemukan sesuatu yang berharga di mata Tuhan
karena kita telah berani bersunat hati. Amin.
Komentar
Posting Komentar