BUKTI-BUKTI KETRITUNGGALAN ALLAH.
(DR.U. Aritonang-UNAI Bdg)
I.
PENDAHULUAN.
A.
Alkitab Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru mempunyai banyak bukti tentang ketritunggalan Allah.
Setelah mengadakan penyelidikan
secara mendalam, Tertulillian (155-222), seorang ketua jemaat mula-mula di
Kartago, Afrika Utara, menemukan bahwa di dalam Alkitab terdapat 3 oknum
ketuhanan, yaitu Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiganya mempunyai oknum
atau pribadi yang berbeda, tetapi mempunyai sifat, tabiat, rencana, tujuan atau
maksud yang sama (The History of Christian Doctrines, hlm.62,63) yang
diuraikannya sebagai:
1. Coexist -Sama-sama ada
2. Coequal -Sama dalam derajat.
3. Coeternal -Sama-sama Kekal.
Artinya, meskipun Allah itu berpribadi atau beroknum tiga, tetapi sama
dalam sifat, tabiat, rencana, tujuan atau maksud-Nya. Dan didalam Alkitab
selalu ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa ketiganya adalah satu dalam
hal-hal tersebut. Itu sebabnya Allah itu selalu disebut ESA atau SATU (tertulis dalam Ul.6:4: “Dengarlah, hai
orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa”. ; 1 Kor.8:6 “namun bagi
kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa,..”), untuk membedakannya dari
allah-allah orang kafir yang banyak, tetapi tidak sama sifat, tabiat, rencana,
tujuan atau maksudnya.
B. Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya berpribadi atau beroknum tiga, --sehingga manusia sebagai mahluk
ciptaan-Nya hanya menerima seperti yang telah dinyatakan-Nya. Namun harus
diakui bahwa rahasia ketritunggalan Allah tidak dapat diketahui secara
keseluruhan, karena pikiran manusia yang fana dan terbatas tidak mampu
menjangkau dan menerangkan tentang hakikat Allah yang baka dan tak terbatas
itu, seperti yang dilukiskan di dalam: Ayub 11:7-9, bunyinya:
“Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan
Yang Mahakuasa?. Tingginya seperti langit—apa yang dapat kauketahui?. Lebih
panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas daripada samudera.”
Kalau manusia sanggup menerangkan tentang keallahan tanpa bantuan Ilahi,
maka derajatnya sudah sama seperti derajat Allah. Hal itu tidak mungkin, karena
sebagai mana hewan yang lebih rendah
derajatnya dari manusia tidak mampu menerangkan tentang manusia, demikian
juga manusia yang lebih rendah
derajatnya dari Allah, tidak akan mungkin mampu menerangkan tentang Allah
yang jauh lebih tinggi derajat-Nya dari derajat manusia, seperti ilustrasi di
bawah ini:
|
OKNUM |
STATUS |
KUASA |
|
TUHAN |
PENCIPTA |
Kuasa-Nya tidak terbatas |
|
MANUSIA |
CIPTAAN |
Kuasanya Terbatas |
|
Binatang,Burung,Ikan |
CIPTAAN |
Kuasanya Terbatas Tindakannya terbatas dan dikendalikan oleh naluri. |
II.
BUKTI-BUKTI KETRITUNGGALAN ALLAH MENURUT ALKITAB DALAM
PERJANJIAN LAMA.
A. BUKTI-BUKTI
ALKITABIAH TENTANG KEMAJEMUKAN OKNUM KEALLAHAN.
1. Dari halaman pertama Alkitab
Perjanjian Lama sudah terdapat bukti-bukti yang menyatakan bahwa oknum
ketuhanan itu lebih dari satu. Bukti
pertama ialah, bahwa sesudah langit dan bumi diciptakan, telah
dinyatakan dalam Kejadian 1:1,2 " Bumi itu masih belum berbentuk dan
kosong, gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di
atas permukaan air”. Ayat-ayat ini
membuktikan bahwa oknum ketuhanan yang lain, yaitu Roh Allah, telah hadir
bersama Allah pada waktu penciptaan langit dan bumi ini.
2. Bukti kedua ialah, bahwa pada waktu hendak menjadikan manusia, satu dari oknum
keallahan itu mengajak oknum-oknum keallahan yang lain dengan berkata dalam Kejadian
1:26: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya
mereka berkuasa atas ikat-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas
segala ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang
merayap di bumi.” Dari istilah KITA yang digunakan oleh satu dari
oknum-oknum keallahan itu, dapat disimpulkan, bahwa oknum keallahan itu pasti
lebih dari satu. Hal ini juga membuktikan, bahwa rencana penciptaan manusia itu
bukan keputusan dan rencana dari satu oknum keallahan, melainkan rencana,
keputusan atau hasil musyawarah dari oknum-oknum keallahan tersebut.
3. Setelah jatuhnya manusia ke dalam
dosa, satu dari oknum keallahan itu juga menggunakan istilah KITA ketika Ia
menyatakan perubahan yang terjadi pada diri manusia itu, katanya dalam Kejadian
3:22 “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu
tentang yang baik dan jahat.”
Penggunaan istilah KITA dalam peristiwa di sini membuktikan, bahwa Tuhan
itu bukan saja beroknum yang lebih dari satu, melainkan MEREKA juga mempunyai
persamaan dalam mengetahui tentang hal yang baik dan jahat sebelum manusia itu
sendiri mengetahuinya.
4. Bukti keempat ialah ketika Tuhan hendak menggagalkan proyek
pembangunan menara Babel, yang merupakan sangkalan terhadap kuasa Tuhan yang
sudah berjanji tidak akan “memusnahkan segala yang hidup”
dengan air bah oleh memberikan busur atau pelangi sebagai tanda (tertulis dalam
Kej.9:15-16). Pada waktu itu juga satu
dari antara oknum-oknum ketuhanan itu mengajak oknum-oknum yang lain dengan
menggunakan istila KITA, katanya dalam Kejadian 11:7 “Baiklah Kita turun dan
mengacaubalaukan di sana bahasa mereka sehingga mereka tidak mengerti lagi
bahasa masing-masing.”
Jadi menurut
peristiwa yang terjadi ini, yang menyebabkan tersebarnya umat manusia ke
seluruh pelosok bumi dan terjadinya berbagai bahasa di dunia, adalah sebagai
hasil musyawarah atau keputusan bersama dari oknum-oknum ketuhanan tersebut.
Meskipun mereka mempunyai oknum atau pribadi yang berbeda, namun satu dalam maksud, rencana dan tujuannya.
Itu sebabnya Tuhan itu disebut ESA atau SATU. Itulah yang disebut KEESAAN
SECARA KOLEKTIF.
5. Bukti kelima ialah ketika Tuhan menjanjikan pemulihan pada bangsa Israel
dan Yehuda yang tertawan di negeri asing. Tuhan melihat dan mengamati
penderitaan umat-Nya yang mengerikan itu, sehingga Ia melukiskan keibaan
hati-Nya, kata-Nya dalam Yeremia 30:5 “Telah KAMI dengar jerit
kegentaran, kedahsyatan dan tidak ada damai.”
Artinya, penderitaan yang menimpa umat Tuhan di dunia ini
merupakan perhatian semua oknum ketuhanan di sorga. Penggunaan istilah KAMI
jelas menunjukkan dan membuktikan, bahwa oknum ketuhanan itu lebih dari satu.
Dari kelima bukti ini dapat disimpulkan, bahwa oknum ketuhanan itu lebih dari
satu. Istilah KITA dan KAMI yang digunakan itu jelas membuktikan bahwa Tuhan
itu sendiri menyatakan diri-Nya lebih dari satu supaya umat manusia tidak
meragukan dan menyangkalnya.
Dan kalau ada yang
sengaja menyangkal pernyataan ini, maka bukan manusia yang ditolak dan
dilawannya, melainkan Tuhan sendiri, yang mengungkapkan rahasia itu.
6. Bukti keenam adalah dengan adanya
Dewan Musyawarah Tuhan di sorga. Baik nabi Yeremia maupun Tuhan sendiri
sama-sama menyatakan adanya Dewan Musyawarah Tuhan di sorga, yang rapatnya
tidak mungkin dapat dihadiri oleh manusia atau makhluk-makhluk lainnya. Yeremia
sendiri menyaksikannya, katanya dalam Yeremia 23:18 “Sebab siapakah yang hadir
dalam Dewan Musyawarah Tuhan, sehingga ia memperhatikan dan mendengar
firman-Nya?.”
Pernyataan nabi Yeremia ini memang benar,
karena tidak mungkin seorang berdosa naik ke sorga untuk menghadiri rapat Dewan
Musyawarah Tuhan tersebut. Jangankan manusia, malaikat pun tidak. Karena itu
adalah Dewan Musyawarah Tuhan, maka hanya oknum-oknum ketuhanan yang dapat
menghadirinya. Tuhan sendiri membenarkan sebutan nabi Yeremia tentang adanya
Dewan Musyawarah-Nya tersebut, katanya dalam Yer.23:22 “Sekiranya mereka
hadir dalam dewan musyawarah-Ku niscayalah mereka mengabarkan firman-Ku kepada
umat-Ku,.....”
Seirama dengan sebutan nabi Yeremia itu,
pertanyaan Tuhan itu juga membuktikan adanya Dewan Musyawarah Tuhan di sorga,
yang tidak mungkin dapat dihadiri oleh manusia.
Ada dua hal yang perlu diingat
sehubungan dengan adanya Dewan Musyawarah Tuhan itu. Pertama, kalau ada Dewan,
seperti DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), MPR dan DPA, maka anggota-anggotanya
lebih dari satu. Kedua, karena dewan itu adalah Dewan Musyawarah Tuhan, maka
anggota-anggotanya pun pasti terdiri dari oknum-oknum ketuhanan, yang sudah
pasti lebih dari satu.
Baik manusia maupun malaikat
tidak dapat menghadiri rapat atau sidangnya, sama halnya dengan rapat atau
sidang DPR, MPR atau DPA, yang tidak mungkin dan tidak dapat dihadiri oleh
singa walaupun galak dan oleh gajah walaupun besar dan kuat. Dan kalau rapat,
DPR,MPR, atau DPA hanya dapat dihadiri oleh anggota-anggotanya yang terdiri
dari manusia, maka rapat Dewan Musyawarah Tuhan itupun hanya dapat dihadiri
oleh anggota-anggotanya yang terdiri dari oknum-oknum ketuhanan.
B.BUKTI ADANYA TRITUNGGAL DI DALAM
PERJANJIAN LAMA.
1. Ketika Tuhan menjanjikan seorang Penebus bagi umat-Nya, yaitu Yesus,
yang “akan
melaksanakan kehendak Tuhan” dan bahwa “segala usahanya akan berhasil”(seperti
tertulis dalam Yes.48:14,15), Sang Penebus itu bersaksi tentang
diri-Nya, katanya dalam Yes.48:16 : “Dan sekarang Tuhan Allah
mengutus Aku dengan Roh-Nya.”
Artinya, bahwa dalam pengutusan Yesus sebagai Penebus atau Juruselamat
ke dunia ini adalah atas kerja sama Allah Bapa dan Roh-Nya. Ayat ini jelas
membuktikan bahwa oknum Roh itu berbeda dari oknum Allah Bapa dan Yesus,
Penebus atau Juruselamat itu. Jadi ayat ini membuktikan bukan saja Tuhan itu
beroknum yang lebih dari satu, melainkan tiga, karena ada satu yang diutus,
yaitu Yesus Kristus, dan dua yang mengutus, yaitu Allah Bapa dan Roh-Nya
(seperti dikatakan dalam Yes.48:16 b). Inilah bukti otentik dari Perjanjian
Lama, yang membuktikan ketritunggalan Allah itu.
C.BUKTI ADANYA TRITUNGGAL DALAM
PERJANJIAN BARU.
1. Ketika Yesus dibaptiskan oleh
Yohanes pembaptis di sungai Yordan ada tiga oknum keallahan yang hadir dan
terlibat. Rasul Matius mengisahkan peristiwa itu dalam Matius 3:15-17 sebagai berikut:
Sesudah dibaptis, Yesus keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka
dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu
terdengarlah suara dari sorga yang
mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah aku berkenan.”
Dari uraian Yohanes ini tampak ketiga oknum itu terlibat : satu
dibaptiskan, yaitu Yesus; satu turund ari sorga dan hinggap di atas-Nya, yaitu
Roh Kudus, dan satu lagi memberikan pengumuman, yaitu Allah Bapa, yang
mengumumkan bahwa Yesus itu adalah Anak-Nya. Istilah BAPA dikenakan kepada
Tuhan yang memberikan pengumuman itu, karena Ia sendiri yang memproklamasikan
Yesus sebagai anak-Nya. Karena masing-masing oknum yang tiga itu memainkan
peranan yang berbeda, maka oknum-oknumnya pun pasti mempunyai pribadi yang
berbeda. Dengan kata lain, Yesus tidak mempunyai oknum atau pribadi yang sama
dengan Roh dan Allah Bapa, sebagaimana Roh dan Allah Bapa tidak mempunyai oknum
atau pribadi yang sama dengan Yesus, yang diproklamasikan sebagai Anak oleh
Bapa (sebagaimana tertulis dalam Matius 3:17).
Masing-masing mempunyai oknum yang berbeda, meskipun dalam sifat, tabiat
dan rencana-Nya Mereka adalah SATU atau ESA.
2. Ketika hendak naik ke sorga,
setelah tugas penebusan manusia diselesaikan, Ia menyuruh murid-murid-Nya untuk
memberitakan Injil ke seluruh dunia dan membaptiskan mereka dalam tiga nama,
kata-Nya dalam Matius 28:19 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa menjadi
murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.”
Yesus merangkaikan ketiga nama itu dalam rumus baptisan untuk
membuktikan bahwa kesatuan mereka ibarat tiga serangkai yang tak terpisahkan.
Dalam rumus baptisan ini pun terlihat juga kesatuan atau keesaan Mereka dalam
merestui seorang dari antara Mereka
menjadi Anak Allah melalui baptisan.
3.Pada waktu rasul Paulus mengucapkan
doa berkat bagi umat Tuhan di Korintus, ia juga merangkaikan ketiga oknum
ketuhanan itu dalam rumus doa berkat tersebut, katanya dalam 2
Kor.13:13 “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan
Roh Kudus menyertai kamu sekalian.”
Rumus doa berkat inipun turut membuktikan bahwa ketika oknum ketuhanan
itu merupakan tiga serangkai yang tidak terpisahkan kesatuan-Nya, meskipun
ketiganya memiliki pribadi yang berbeda. Dengan kata lain, berkat Tuhan itu
turun ke atas umat-Nya dengan persetujuan bersama dari ketiga oknum itu.
4.Pada waktu menjanjikan pengutusan
Roh Kudus ke dunia ini, Yesus juga melibatkan ketiga oknum ketuhanan itu,
katanya dalam Yohanes 14:26 “Tetapi penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh
Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan
mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”
Dari sebutan Yesus ini jelas terbukti adanya kesepakatan atau kerjasama
di antara Allah Bapa dan Anak (Yesus) pada waktu mengutus Roh Kudus ke dunia
ini, sebagaimana adanya kesepakatan atau kerjasama di antara Allah Bapa dan Roh
Kudus pada waktu mengutus Juruselamat ke dunia ini (seperti tersurat dalam Yes.48:16
b). Dan karena Yesus dan Roh Kudus adalah oknum yang berbeda, yang
masing-masing diutus ke dunia ini pada saat yang berbeda, maka Allah Bapa yang
mengutus Mereka itupun (seperti tertulis dalam Yoh.14:26; 17:8) adalah oknum
ketuhanan yang berbeda juga.
Artinya, masing-masing mempunyai oknum atau pribadi yang berbeda.
Dari keempat uraian tadi, dapat disimpulkan, bahwa oknum ketuhanan itu
ada tiga, yaitu Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, namun mempunyai sifat, tabiat
dan rencana yang sama, yang tentu pada kesempatan lain kita akan bahas lagi.
Jadi baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mempunyai bukti-bukti
yang sama tentang Ketritunggalan Allah. Tetapi hal yang perlu diingat ialah
bahwa Allah Bapa tetap berada di sorga.
Kedudukan-Nya bisa disamakan dengan kedudukan Ketua, yaitu Ketua bagi
Dewan Musyawarah Tuhan, karena Dialah yang bertindak mengutus Yesus (seperti
tertulis dalam Yes.48:16 b) dan Roh Kudus (Yoh.14:26) silih berganti ke dunia
ini, sedangkan ia sendiri tetap berada di surga (Yoh.16:28).
Karena Roh Kudus yang akan melanjutkan pekerjaan Yesus di dunia ini,
maka sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Ia terjanji kepada murid-murid-Nya, dalam Yohanes
14:16 “Aku akan minta kepada Bapa (Ketua Dewan Musyawarah Tuhan), dan Ia akan
memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu
selama-lamanya.”
Jadi sesudah kenaikan Yesus ke sorga, Roh Kuduslah sekarang yang berada
di dunia ini menyertai umat-Nya. Tetapi Ia tidak bertindak sendiri sebab Ia
menyampaikan apa yang diterima-Nya dari Yesus (Yoh.16:14).
Dengan kata lain, ketiga oknum itu bersatu dalam mengupayakan
keselamatan umat manusia berdosa.
5.Rasul Paulus mengungkapkan adanya
pembagian tugas diantara oknum-oknum ketuhanan yang tiga itu, katanya dalam 1
Kor.12:4-6 “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada berbagai-bagai
perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua
orang.”
Rasul Petrus mendukung adanya pembagian tugas di antara tiga oknum
keallahan itu, katanya dalam 1 Petr.1:1,2 “Dari Petrus, rasul Yesus
Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia,
Kapodokia, Asia Kecil dan Bitinia, yaitu orang-orang yang terpilih, sesuai
dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat
kepada Yesus Kristus.”
6.Bukti terakhir tentang Ketritunggalan Allah di dalam Perjanjian Baru
tampak di dalam pengiriman salam yang disampaikan oleh Rasul Yohanes pewahyu
kepada tujuh jemaat yang terdapat di Asia Kecil, katanya dalam Wahyu
1:4,5 “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang ada di Asia kecil: kasih karunia
dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan sudah ada dan yang
akan datang, dan dari ketujuh Roh Allah yang ada di hadapan takhta-Nya, dan
dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara
orang-orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja di bumi.”
Salam yang disampaikan Yohanes dalam tiga nama itu membuktikan, bahwa
hingga buku Wahyu, keesaan atau kesatuan ketiga oknum ketuhanan itu tetap
dipertahankan, untuk menunjukkan dan membuktikan, bahwa kesatuan MEREKA kekal
sifatnya. Dan kalau Tuhan sudah menyatakan diri-Nya terdiri dari tiga oknum,
suka atau tidak suka, manusia seharusnya menerima sebagaimana yang telah
dinyatakan-Nya.
7.Semua ayat yang kita telah pelajari telah membuktikan bahwa ada tiga
oknum keallahan, yakni Allah, Roh Allah dan Firman (Yesus), yang juga disebut
Allah. Identitas Allah dan Roh Allah
jelas diungkapkan di dalam Kejadian 1:1,2, yang bunyinya: “Pada mulanya
Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap
gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan
air.”
Identitas Allah yang sama disebut mempunyai eksistensi yang sama dengan
Firman atau Yesus, yaitu oknum keallahan yang ketiga, seperti diungkapkan di
dalam Yohanes 1:1,2, bunyinya : “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu
bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya
bersama-sama dengan Allah.”
KESIMPULAN:
A.
Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru dengan jelas membuktikan adanya oknum tritunggal, yaitu
Allah Bapa, Anak atau Yesus, dan Roh Kudus.
B.
Bukti pertama
ialah penggunaan istilah KITA dan KAMI di dalam Perjanjian Lama.
C.
Bukti kedua ialah
adanya kerja sama di antara Allah Bapa dan Roh Kudus dalam pengutusan Yesus
sebagai Penebus ke dunia ini (Yes.46:16 b).
D.
Bukti ketiga
ialah, bahwa Yesus sendiri mengaku bahwa Roh Kuduslah yang mengutus-Nya ke
dunia ini, katanya dalam Lukas 4:18 “Roh Tuhan ada pada-Ku..dan Ia telah
mengutus Aku.”
E.
Bukti keempat
ialah adanya kerja sama di antara Allah Bapa dan Anak (Yesus) dalam pengutusan
Roh Kudus ke dunia ini (Yoh.14:16,26).
F.
Ketiga Oknum keallahan
hadir pada waktu Yesus dibaptiskan ibarat tiga serangkai yang tidak terpisahkan
(Mat.3:15-1), sebagaimana ketiga oknum itu disatukan dalam rumus baptisan
(Mat.18:19) dan dalam rumus doa berkat (2 Kor.13:13).
G.
Ketiga oknum itu
disatukan dalam salam yang ditujukan rasul Yohanes pewahyu kepada ketujuh
jemaat yang terdapat di Asia Kecil (Why.1:4,5).
H.
Adanya Dewan
Musyawarah Tuhan di sorga. (Yer.23:18,
22).
1.
Kalau ada Dewan,
maka anggota-anggotanya pasti lebih dari satu.
2.
Karena menurut
bukti-bukti Alkitabiah hanya ada tiga oknum Keallahan, yaitu Bapa, Anak dan Roh
Kudus, maka ketiganyalah yang menjadi anggota-anggota dan Ketua Dewan
Musyawarah Tuhan tersebut.
Komentar
Posting Komentar