AIR BAH (PASSD4T2-2022.)


AIR BAH (The Flood).

  

   Nast: “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak manusia”.(Matius 24:37).

 

 1.Selama kisah penciptaan yang dicatat dalam Kejadian 1, Allah melihat semua ciptaan-Nya itu: “baik” (tov).

   Namun, pada zaman Nuh, Allah melihat bukan lagi “baik”(tov) tetapi “ra”/jahat (Kej.6:5). Seolah-olah Allah menyesal karena dunia ini penuh dengan “ra”(kejahatan).

   Kejadian 6:5-8).

   “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar dibumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah Tuhan: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan.

 (And the Lord was sorry that He had made man on the earth…(ay.6).  ..for I am sorry that I have made them” (ay.7).

   It repented the Lord (KJV)--

"Pertobatan" Allah adalah ekspresi yang mengacu pada rasa sakit cinta ilahi yang disebabkan oleh keberdosaan manusia. Ini menyajikan kebenaran bahwa Tuhan, tidak konsisten dengan kekekalan-Nya, mengambil posisi yang berubah sehubungan dengan manusia yang berubah”.(1 BC, p.251).

2. Namun, bahkan di saat bencana itu, kita melihat bahwa Allah membawa pengharapan meskipun ada bencana.

   Nama Nuh (Noakh), yang berarti “penghiburan” (Kejadian 5:29) hampir merupakan jawaban atas kata dukacita yang Allah rasakan ketika Ia memandang ke bumi ini.

3. Air Bah adalah suatu operasi penyelamatan/a rescue operation. God sent the flood to restore good upon the earth.

   Jika Allah tidak mengirimkan air bah, tidak akan lama sebelumnya tidak ada satu orang pun di bumi yang mendengarkan Allah.

   Perhatikan Kejadian 6:8-10 dan 7:1 yang menyatakan bahwa hanya Nuh yang setia kepada Allah.

4. Jika kita percaya bahwa Allah memiliki pengetahuan sebelumnya (has foreknowledge), maka Dia tahu sebelumnya persis seperti apa kondisi di bumi ini.

   Jadi, dalam arti apa Dia "menyesal/bertobat"?

   Dia menyesal bahkan ketika Dia telah menciptakan Lucifer di surga karena Dia tahu apa yang akan dilakukan Lucifer.

5. Pemerintahan Allah didasarkan pada kebebasan.

    Kasih tidak mungkin tanpa kebebasan. Allah tidak menciptakan kita sbg.  robot. Dia memberikan setiap makhluk-Nya kebebasan untuk memilih. Tetapi, Dia tahu bahwa cepat atau lambat, seseorang akan memilih untuk menggunakan kebebasannya untuk memberontak melawan Allah.

6. Ketika Lucifer telah memberontak di surga, (Wahyu 12:7-10) maka disana terjadi perang --- perang ide bukan perang dengan senjata fisik.

   Setan dan para pengikutnya dilempar dari surga. Mengapa Setan dan para pengikutnya tidak dilenyapkan saja pada saat itu?

 

   “Allah bisa saja menghancurkan Setan dan simpatisannya semudah seseorang dapat melemparkan kerikil ke bumi; tetapi Dia tidak melakukan ini.

   Pemberontakan tidak bisa dikalahkan dengan kekerasan.  

   Kekuatan yang memaksa hanya ditemukan di bawah pemerintahan Setan. Asas-asas Allah tidak sesuai dengan urutan ini.  Otoritas-Nya bertumpu pada kebaikan, belas kasihan, dan kasih; dan penyajian prinsip-prinsip ini adalah sarana yang akan digunakan.

   Pemerintahan Allah adalah moral, dan kebenaran dan kasih harus menjadi kekuatan yang berlaku.

   Adalah tujuan Allah untuk menempatkan segala sesuatu di atas dasar keamanan yang kekal, dan dalam dewan-dewan surga diputuskan bahwa waktu harus diberikan kepada Setan untuk mengembangkan prinsip-prinsip yang merupakan dasar dari sistem pemerintahannya.

   Dia telah mengklaim bahwa ini lebih tinggi dari prinsip-prinsip Tuhan. Waktu diberikan untuk bekerjanya prinsip-prinsip Setan, agar prinsip-prinsip itu dapat dilihat oleh alam semesta surgawi.

   Setan membawa manusia ke dalam dosa, dan rencana penebusan dijalankan.

   Selama empat ribu tahun, Kristus bekerja untuk mengangkat manusia, dan Setan untuk kehancuran dan kemerosotannya.

   Dan alam semesta surgawi melihat semuanya”.―Ellen G. White, Desire of Ages 759.1-3.

 

   “Dalam pembukaan kontroversi besar, Setan telah menyatakan bahwa hukum Allah tidak dapat dituruti, bahwa keadilan tidak sesuai dengan belas kasihan, dan bahwa, jika hukum dilanggar, itu mustahil bagi orang berdosa yang harus diampuni.

   Setiap dosa harus mendapatkan hukumannya, desak Setan; dan jika Allah harus menghapus hukuman dosa, Dia tidak akan menjadi Tuhan kebenaran dan keadilan.

   Ketika manusia melanggar hukum Allah, dan menentang kehendak-Nya, Setan bergembira. Itulah buktinya, katanya, bahwa hukum tidak dapat dituruti; manusia tidak bisa dimaafkan.

   Karena dia, setelah pemberontakannya, telah diusir dari surga, Setan mengklaim bahwa umat manusia harus selamanya dikucilkan dari perkenanan Allah. Allah tidak bisa adil, desaknya, namun menunjukkan belas kasihan kepada orang berdosa.―Ellen G. White, Desire of Ages* 761.2-4.

7. Ketika dosa menyebar ke bumi ini, Allah tahu itu akan datang.  

   Kebenaran tentang dosa dan akibatnya, kematian, (Roma 6:23) harus ditunjukkan secara kekal sekali dan untuk selamanya.

  Jika Allah tidak melenyapkan orang-orang dalam air bah, itu hanya masalah waktu sebelum tidak ada seorang pun di bumi ini yang mendengarkan Allah dan tidak mungkin rencana keselamatan yang lain telah terjadi. berhasil.

   Catatan dosa akan disimpan di surga sebagai “perlindungan abadi/eternal safeguard” terhadap kemunculan kembali dosa atau pemberontakan.

8. Menurut Anda apa yang seharusnya Allah lakukan dalam menghadapi kemerosotan kondisi yang mengerikan sebelum air bah? Apakah banjir benar-benar sebuah “misi penyelamatan”?

   [Tepat sebelum waktu banjir,] Umat manusia telah mencapai titik tidak bisa kembali/the point of no return.

   Allah harus campur tangan dengan satu Air Bah di seluruh dunia untuk melestarikan/memelihara satu umat sisa- ras manusia dari degradasi/penurunan/keburukan moral total dan dari kepunahannya.―

 

 Minggu: PERSIAPAN AIR BAH. (Preparation for the Flood)

   Kisah sejarah manusia yang mula-mula: Kej.6:13-7:10.

   Seperti Daniel, Nuh adalah seorang Nabi yang meramalkan akhir dunia.

(Nuh berumur 600 tahun, Ketika air bah datang meliputi bumi).

-Setelah 7 hari datanglah air bah meliputi bumi (Kej.7:10).

-Selama 40 hari 40 malam.

-Kejadian 6:14 “Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir.

   Kata Ibrani untuk bahtera (teva)----kata perahu dalam Kejadian 6:14 adalah "kata yang di adopsi" dari  Mesir yang sama yang digunakan dalam Keluaran: 2:3 untuk keranjang di bayi Musa yang mengapung. >>menunjuk pada pekerjaan penyelamatan Allah bagi umat-Nya.

-Kejadian 6:22 “Lalu Nuh melakukan semuanya itu, tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”à menyimpulkan bagian persiapan.

   *Kata perintah “asah” (melakukan, membuat)---Ini diulangi 5 kali (Kej.6:14-16) àGema antara perintah Allah dan tanggapan Nuh menunjukkan ketaatan mutlak Nuh pada apa yang Tuhan perintahkan kepadanya untuk dilakukan.

9. Pria/manusia macam apakah Nuh itu? Bagaimana dia bisa tetap/tinggal benar/lurus di lingkungan itu?

   Kejadian 6:14-22: v.22--Noah did everything that God commanded.―

10. Hal ini mengingatkan kita bahwa setiap kali Tuhan memerintahkan, Nuh menurutinya dengan setia.

   “Allah telah memberikan kepada Nuh ukuran bahtera dengan tepat, dan petunjuk2 yang saksama sehubungan dengan pembuatan batera itu sampai kepada perkara yang sekecil-kecilnya. Hikmat manusia tidak akan dapat merencanakan suatu bentuk yang begitu kukuh. Allah adalah perancangnya dan Nuh adalah pembangun utamanya.” E.G. Ehite, Alfa dan Omega,Jld.1 hlm. 98, 99.

(Bukankah seharusnya begitu dengan  kita semua?—memiliki ketaatan mutlak pada apa yang Tuhan perintahkan kepada kita untuk kita lakukan?).

11. Banyak orang meragukan keberadaan ramalan Allah(God’s foreknowledge).

   Mereka berpikir: (1) Bahwa Allah tidak memiliki pengetahuan sebelumnya, atau (2) Bahwa Pengetahuan Allah sebelumnya (God’s foreknowledge)--menghancurkan kebebasan kita.

12. Salah satu contoh klasik dari ramalan Tuhan sebelumnya (God’s foreknowledge) adalah bahwa Dia menyuruh Nuh untuk membangun sebuah bahtera dengan ukuran tertentu.(Pj.300 hasta, lebar: 50 hasta, tinggi: 30 hasta—bertingkat bawah, tengah dan atasàKej.6:15-16.

   Bagaimana Allah tahu bahwa tidak akan ada banyak orang yang ingin masuk?

   Ibrani 11:7: “Karena iman, maka Nuh dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelematkan keluarganya;….

13. Apakah mungkin dari semua orang yang hidup di dunia pada masa itu, hanya Nuh dan keluarganya yang akan diselamatkan?

   2 Petrus 2:5-10: ”dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik;…

   “Selama seratus dua puluh tahun Nuh menyatakan pekabaran amaran/peringatan kepada dunia kuno/sebelum air bah; tetapi hanya sedikit yang bertobat. Beberapa tukang kayu yang dia pekerjakan untuk membangun bahtera mempercayai pekabaran itu, tetapi meninggal sebelum banjir; orang lain dari petobat Nuh murtad”. Ellen G. White, Review and Herald,* 16 Agustus 1906, par. 2. Manuscript 65, 1906, dikutip dalam SDA Bible Commentary,* vol. 1, 1088,7; Dasar-dasar Pendidikan Kristen* 504.2.

 

Senin, PERISTIWA AIR BAH (The Event of The Flood)

   Kejadian 7:11-24: “Pada waktu umur Nuh 600 tahun,..pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap2 di langit. v.12 Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi 40 hari 40 malam lamanya.v.16.Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu Tuhan menutup pintu bahtera itu…  v.22.Matilah segala yang ada nafas hidup dalam hidungnya, segala yang ada di darat.

   “Setan sendiri, yang dipaksa untuk tetap berada di tengah-tengah elemen yang berperang, takut akan keberadaannya sendiri.... Dia sekarang mengucapkan kutukan terhadap Allah, menuduh-Nya dengan ketidakadilan dan kekejaman.

   Banyak orang, seperti Setan, menghujat Allah, dan seandainya mereka mampu, mereka akan mencopot-Nya/mencabiknya dari takhta kekuasaan”. Ellen G. White, Patriarchs and Prophets* 99.3.    Bandingkan 1SP 74.2; 3SG 70.1. [Setan percaya bahwa dia baru saja akan memenangkan kontroversi besar di bumi ini; dan kemudian, Allah mengirim banjir untuk menghancurkan semua pengikutnya!]

14. Menarik untuk dicatat bahwa kisah air bah mengulangi banyak ungkapan dari kisah penciptaan tetapi dengan hasil yang berlawanan.

   Kata kerja (verb) “asah”=membuat/menjadikan/make yang merujuk/mengacu kepada tindakan2 Nuh, juga merupakan kata kunci dalam kisah Penciptaan dalam Kejadian 1:7,16,25,26,31,Kejadian 2:2).

   Dari hubungan ini kita dapati bahwa:  Air bah bukan hanya tentang Tuhan yang menghukum umat manusia, tetapi tentang Tuhan yang menyelamatkan kita juga.

   (Mungkinkah Allah yang menciptakan juga menghancurkan?) àGema kisah penciptaan ini membantu mengungkapkan bahwa Tuhan yang menciptakan adalah sama dengan Tuhan yang menghancurkan (Ulangan 32:39).

   Ulangan 32:39 “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan,…Kejadian 1:6-7.

   Baca lagi Kejadian 7:11 “Pada waktu umur Nuh 600 tahun,--pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap2 di langit.”

15. Perhatikan bahwa air yang terpisah pada saat penciptaan bergabung kembali dengan air bah.

16. Kehancuran oleh air bah memungkinkan Allah untuk menciptakan kembali bumi kita dengan cara yang baru. àGema ini juga menyampaikan pekabaran pengharapan.  Air Bah dirancang untuk menjadi ciptaan baru, keluar dari air,  yang mengarah pada keberadaan baru.  Penciptaan bumi baru membutuhkan penghancuran yang lama. (Apakah di dalam diri kita yang perlu dihancurkan agar bisa diciptakan baru?)

   Ini adalah gambaran awal dari apa yang akan terjadi di akhir sejarah dunia kita setelah dunia dihancurkan oleh api.

   (Wahyu 21:1; Yesaya 65:17).

 

Selasa: AKHIR AIR BAH (The End of the Flood)

   17. Satu-satunya hal yang menghalangi Allah untuk datang kembali saat ini adalah kondisi umat-Nya! Tuhan akan kembali jauh sebelum sekarang jika kita sudah siap. (Lihat Evangelism 694-697.)

  (The only thing that prevents God from coming back right now is the condition of His people! God would have come back long before now if we had been ready. (See Evangelism 694-697.)

  

   Baca lagi Kejadian 7:22-24. v.23 “Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang di muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang melata dan burung-burung di udara, sehingga semuanya itu dihapuskan dari atas bumi, hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu. Dan berkuasalah air itu di atas bumi 150 hari lamanya”

   Kejadian 7:22-24 –menjelaskan efek yang luar biasa dan menyeluruh dari air itu, yang menghapuskan segala yang ada dan menghancurkan semua makhluk hidup di bumi ini (Kej.7:24).

18. Bagaimana kita bisa memahami pernyataan seperti ini, yang menunjukkan bahwa Dia, Allah Sendiri, menghancurkan semua makhluk hidup di bumi ini?

19. Setelah banjir besar/Air bah massive yang mendunia:

    Kejadian 8:1 “Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang besama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun.” 

   Apa artinya kata “mengingat” disini? Ibr: Zakhar = remember, artinya: Tuhan tidak melupakan.

20. Jelas, Allah tidak melupakan Nuh. Seratus dua puluh tahun sebelum air bah dimulai, Nuh telah diperingatkan/diberi amaran.  

   Dia telah berkhotbah kepada orang-orang, dan Allah telah membantunya membangun bahtera/perahu itu.

21. Ungkapan Allah “mengingat” atau tidak melupakan digunakan di beberapa tempat dalam Alkitab, menunjukkan pengampunan Allah dan pemenuhan janji-janji-Nya.

22. Setelah lebih dari satu tahun terkurung dalam bahtera/ perahu, Nuh telah mengirim burung gagak dan merpati (a raven and dove) untuk melihat apakah ada tanah kering di dekatnya.

   Kejadian 8:13. “Dalam tahun ke 601, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering.”

23. Tetapi, seperti yang telah kita lihat, Nuh dengan setia menunggu Allah untuk memberi petunjuk2 tentang langkah apa yang harus diambil selanjutnya.

   Saat dia [Nuh] telah memasuki [bahtera] atas perintah Allah, dia menunggu arahan khusus untuk berangkat/depart/keluar.

   Akhirnya seorang malaikat turun dari surga, membuka pintu besar itu, dan menyuruh sang Bapa dan keluarganya pergi ke bumi dan membawa serta setiap makhluk hidup.—Ellen G. White, Patriarchs and Prophets* 105,3- 4.

   (Meskipun belum ada perintah langsung yang diberikan untuk pergi, Nuh mengambil inisiatif dan mengirim burung gagak terlebih dahulu  dan kemudian burung merpati, untuk menguji situasi. Akhirnya, ketika merpati tidak kembali, dia memahami

 “sudahlah kering air itu….(Kej.8:13).

   Tindakan Nuh kaya akan pelajaran praktis: Di satu sisi, hal itu mengajar kita untuk memercayai Tuhan meskipun Dia berlum berbicara secara langsung dan disisi lain bahwa Iman dan  tidak menyangkal/menolak nilai berpikir dan menguji (the value of thinking and testing.) Iman tidak mengecualikan tugas untuk berpikir, mencari, dan melihat apa yang kita pelajari itu benar.

   Namun, Nuh keluar hanya Ketika Tuhan, akhirnya, menyuruhnya untuk melakukannya (Kej.8:15-19).

   Artinya, meskipun dia tahu aman untuk pergi, Nuh masih mengandalkan Tuhan dan menunggu sinyal Tuhan sebelum keluar dari behtera. Dia menunggu dengan sabar di dalam bahtera. 

   *“Sebagaimana ia (Nuh) telah masuk di dalam bahtera atas perintah Allah, demikian pula ia menunggu perintah untuk meninggalkannya. Akhirnya seorang malaikat turun dari sorga, membuka pintu bahtera yang besar/massive itu dan memerintahkan Nuh dengan keluarganya pergi ke dataran/earth/bumi dan membawa segala sesuatu yang hidup bersama-sama dengan mereka.”* E.G. White, Alfa dan Omega,jld.1,hlm.113.(PP p.105).

   Dalam Kej.8:15-19—Akhirnya Allah memberi instruksi agar mereka keluar dari bahtera.

 

Rabu: PERJANJIAN: BAGIAN PERTAMA

(The Covenant: Part One).

24. Ingatlah bahwa bahkan sebelum Nuh membuat perahu, Allah telah berjanji kepadanya bahwa suatu hari dia akan survive/selamat dan hidup melewati air bah.

   Baca Kej.6:17-18 :”Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.”

25. Jadi, apa yang dilakukan Nuh segera seetelah dia bisa turun dari bahtera?

   Kejadian 8:20:”Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.”

   Seperti A/H, menyembah Tuhan pada hari Sabat segera setelah 6 hari penciptaan—Nuh menyembah Tuhan segera setelah air bah, sebuah peristiwa penciptaan lain dalam dan dari dirinya sendiri.  Namun, ada perbedaan antara ke dua ibadah tersebut.

   A/H – menyembah Tuhan secara langsung. Nuh- harus menggunakan korban di atas altar/mezbah. Ini adalah penyebutan pertama dalam Kitab Suci tentang sebuah altar/mezbah.

   Persembahannya adalah: ‘Olah’ ( korban bakaran)—persembahan tertua dan paling sering dilakukan.

   Bagi Nuh, korban ini adalah persembahan ucapan syukur (Bil.15:1-11)àdiberikan untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada Sang Pencipta yang telah menyelamatkannya.

  26. Salah satu efek yang langsung terlihat setelah Air bah adalah perubahan petunjuk2 Allah tentang apa yang bisa mereka makan.

   (Memengaruhi pola makan manusia). Ada batasan yang Tuhan berikan.

   Kejadian 9:2-4: v.3 “Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. v.4. Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.”

   Karena pengaruh Air Bah, makanan nabati tidak lagi tersedia seperti dulu.  Karena itu, Tuhan mengizinkan manusia memakan daging hewan. Di dunia pasca-Air Bah, pembunuhan hewan untuk makanan menyebabkan hubungan ketakutan dan kengerian (Kej.9:2)àBerbeda denga napa yang mereka nikmati di Eden.

27. Jelas, tidak ada kehidupan tumbuhan yang tumbuh cukup untuk menyediakan makanan bagi semua hewan dan juga manusia pada saat itu. Jadi, Allah mengizinkan mereka makan dari hewan yang halal.

   Ada dua larangan yang jelas dalam petunjuk Allah:

   (1) Mereka hanya boleh memakan hewan yang disebut “halal/bersih”; dan

   (2) Mereka tidak boleh makan darah.

 

Kamis: PERJANJIAN: BAGIAN KEDUA (The Covenant: Part 2)

28. Allah telah membuat perjanjian dengan Nuh bahwa Dia akan melindungi dia dan keluarganya melalui air bah.

   Kemudian, Dia telah memperluas perjanjian itu untuk memasukkan janji kedua. (Then, He extended that covenant to include a second promise.)

   Kejadian 8:21-9:1 “Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah Tuhan dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti seperti yang telah Kulakukan….Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah serta penuhilah bumi.”

29. Janji ini bahkan untuk kita selama bumi ini ada.

30. Ada sebuah planet yang menunggu untuk dihuni kembali.   Jadi, Allah memerintahkan hewan untuk berkembang biak dan bertambah jumlahnya, dan begitu juga manusia.

31. Dan pada saat itu, Allah memperkenalkan tanda khusus dari perjanjian-Nya kepada dunia.

   Kejadian 9:8-17: v.11..bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” v.13 ”Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.”

32. Pada akhir minggu penciptaan, Tuhan memberi kita hari Sabat, hari di mana kita harus merayakan dan menyembah Dia. Ini dimaksudkan untuk menjadi berkat bagi seluruh umat manusia.

33. Setelah banjir, Allah telah memberikan pelangi sebagai tanda kedua untuk manfaat/keuntungan seluruh umat manusia.

34. Bertahun-tahun kemudian, pada zaman Musa, Dia mengingatkan Israel bahwa hari Sabat seharusnya menjadi tanda antara mereka dan Allah dan bahwa mereka adalah umat-Nya yang sejati.

   Keluaran 31:12-17: v.13.”Katakanlah kepada orang Israel, demikian:Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, terun temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah Tuhan, yang menguduskan kamu.”

35. Yesus sendiri menyatakan dalam Matius 24:37  (Ayat hafalan).

   “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.”

 

TAMBAHAN:

   Kedatangan Yesus yang keduakalinya digambarkan / dianalogikan dengan datangnya banjir Nuh.

   Dalam Luk 17:2829, ditambahkan analogi yang lain, yaitu hujan api dan belerang atas Sodom.

   a)   Dari sini jelaslah bahwa  peristiwa banjir Nuh maupun hujan api dan belerang atas kota Sodom, bukanlah sekedar merupakan dongeng / illustrasi (seperti yang dipercaya oleh banyak orang liberal!), tetapi betulbetul merupakan fakta sejarah! (juga peristiwa Yunus ditelan ikan bdk. Mat 12:3941).

   b)   Persamaan antara peristiwaperistiwa itu:

·        hukuman itu datang dengan tibatiba.

·        pada saat mereka sadar, sudah terlambat untuk bertobat.

Penerapan:

   Sadarlah sekarang, sebelum terlambat!

·        banyak orang mengabaikan Firman Tuhan / peringatan Tuhan (bdk. 2Pet 2:5 Nuh adalah pemberita kebenaran), dan mereka semua binasa!

Penerapan:

   Jangan mengabaikan peringatan tentang hari Tuhan, atau saudarapun akan binasa!

 

JUMAT:

   “Dosa-dosa yang telah mendatangkan pembalasan kepada dunia sebelum air bah, ada sekarang ini.  Takut akan Allah telah lenyap dari hati manusia, dan hukum-Nya diperlakukan dengan sikap acuh tak acuh dan cemoohan. Keduniawian yang ada pada generasi tersebut disamai oleh keduniawian yang ada sekarang ini… Tuhan menghukum orang-orang sebelum air bah bukan karena mereka makan minum….Yang menjadi dosa mereka ialah menerima pemberian2 tersebut tanpa rasa syukur kepada Pemberinya, dan mereka telah merusakkan diri mereka oleh memanjakan nafsu makan mereka tanpa batas.

   Adalah sah/diizinkan (lawful) bagi mereka untuk menikah. Perkawinan adalah sesuatu yang direncanakan oleh Allah; itu adalah salah satu daripada lembaga2 yang yang pertama yang telah ditetapkan oleh Allah. Ia telah memenuhinya dengan kesucian dan keindahan, tetapi segala petunjuk ini telah dilupakan dan pernikahan telah disalahgunakan dan dijadikan alat sekadar untuk memuaskan hawa nafsu.  Keadaan yang sama itu berlaku sekarang ini.

   Yang sebenarnya halal telah dijalankan dengan secara berlebih-lebihan. Nafsu makan dimanjakan tanpa batas. …

   Penipuan, uang suap, pencurian merajalela tanpa ada teguran baik di kalangan orang-orang yang tinggi ataupun orang yang rendah kedudukannya. Surat-surat kabar dipenuhi oleh berita2 pembunuhan. …Roh kekacauan sedang merajalela di segala bangsa, dan pemberontakan2 yang dari waktu ke waktu menimbulkan rasa ngeri di dunia ini adalah merupakan bukti daripada api nafsu serta kejahatan, yang sekali terlepas dari pengendalian, akan memenuhi dunia ini dengan celaka dan kebinasaan. 

   Gambaran yang telah diberikan Ilham tentang dunia sebelum air bah, melukiskan dengan sangat tepat tentang keadaan yang segera akan terjadi kepada masyarakat modern sekarang ini.  

   Sekarang ini, di dalam abad ini, dan di dalam negara-negara yang mengaku Kristen, terdapat kejahatan2 yang tiap hari dilakukan sehebat seperti kejahatan2 untuk mana orang2 berdosa pada zaman dahulu kala telah dibinasakan.”

   E.G. White, Alfa dan Omega,jld.1,hlm.107,108.(PP.p.101.2-102).

36. Dalam hal apa masyarakat dan dunia kita seperti masa sebelum air bah?

37. Ada banyak orang yang meragukan kebenaran banjir sedunia. Tentu saja, jika Anda tidak percaya cerita itu, Anda menyebut banyak penulis Alkitab, dan Yesus sendiri, pembohong!

   Banyak orang mempertanyakan historisitas cerita Alktiab tentang Air Bah, dengan alasan bahwa peristiwa meliputi seluruh dunia itu tidak sesuai dengan pandangan ilmiah modern tentang riwayat alam.  Namun, ada catatan banjir besar dalam ingatan budaya kolektif  banyak orang yang berjauhan satu sama lain, di seluruh dunia, dan tidak hanya di Timur Dekat Kuno, Mesopotamia, Mesir dan Yunani. Narasi Air Bah ditemukan di India, Tiongkok, di antara penduduk kuno Irlandia, di antara orang2 Maya di Mesoamerika, penduduk asli Amerika, orang2 kuno di Amerika Selatan dan Afrika, dan bahkan diantara suku2 asli Australia.  Fakta bahwa ilmu pengetahuan modern tidak dapat memahami fenomena Air Bah bukanlah bukti bahwa peristiwa itu tidak pernah terjadi.  Kegagalan ilmu pengetahuan modern untuk menjelaskan Air Bah hanyalah bukti lain dari keterbatasan ilmu pengetahuan, terutama Ketika berhadapan dengan sesuatu yang supernatural seperti Air Bah di Kejadian.

   Seberapa besarkah bahtera itu?.

   Jika 1 hasta =  18’ (45 cm), Panjang bahtera 300 hasta=450 kaki=lebih dari 137 m. Lebar: 50 hasta=75 kaki=22 m; tinggi: 30 hasta=45 kaki=13 m. (Luas: kira2:à 3,014 m.)

   Ukuran2 ini tidak memilik makna simbolis atau rohani khusus; semua hanya menyarankan besarnya ukuran kapal itu, yang cukup besar untuk menampung hewan2 dan manusia di dalamnya. Namun, persamaan2 antara bahtera dengan tabernakel memiliki makna yang mendalam, yakni:

   Allah yang menyelamatkan secara rohani, Yesus Kristus adalah Allah Pencipta yang sama yang menyelamatkan kita secara fisik dan jasmani.

38. Dalam mengirimkan air bah, apakah Tuhan melanggar perintah keenam?(Hukum ke 6 – Jangan membunuh?)

   Bahasa Ibrani memiliki beberapa kata kerja “membunuh”.

   Semua kata kerja tersebut berlaku untuk manusia dan binatang, kecuali satu, yakni: kata kerja “ratsakh”, yang hanya berlaku untuk manusia.

   Kata kerja “ratsakh”= membinasakan/membunuh(murder) digunakan dalam Sepuluh perintah (Kel.20:13). Jadi perintah ke 6 tidak boleh   diterjemahkan sebagai “Jangan membunuh” yang hanya menyampaikan kasus tertentu dari perbuatan jahat, tetapi: “Engkau jangan membunuh manusia”—dalam arti tanpa syarat.

39. Bagaimana seharusnya kita menerapkan gagasan ini pada dinas militer dan situasi serupa di zaman kita?  ==00==

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBADAH MEMASUKI RUMAH BARU

LYRIC LAGU (2)

Keyakinan Menghadapi Tahun Baru.