BERMITRA DENGAN ALLAH (10)
PENDAHULUAN
Shalom, …Salam sejahtera bagi kita semua!
Puji Tuhan karena kita bisa
jumpa kembali pada malam ke 10/Hari ke 10, untuk
melanjutkan Kebaktian Kebangunan Rohani HIDUP YANG TERBAIK.
Banyak orang yang bekerja di beberapa
perusahaan, seperti di pertambangan batu bara dan tambang emas. Tidak sedikit orang yang mati ketika bekerja
untuk mencarinya, namun mereka terus mau melakukannya karena jaminan yang
mereka terima pun cukup tinggi.
Untuk bermitra dengan perusahaan dunia ini orang mau menanggung risiko
sampai mati, tetapi lupa untuk bermitra dengan perusahaan Allah yang besar.
*B. PEMBAHASAN:*
Pada saat ini kita sangat senang untuk membahas bersama-sama tentang
adanya panggilan Allah untuk bermitra dengan perusahaan Allah yang besar dan
mulia. Kita semua dapat bermitra dengan
Allah karena dari-Nya pun kita menerima jaminan yang tinggi dan kekal.
1. Mari
kita baca panggilan Allah itu dalam Kitab Maleakhi 3:10:”Bawalah seluruh
persembahan Persepuluhan itu kedalam rumah perbendaharaan, supaya ada
persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam,
apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan
berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”
Disini kita diajak supaya mau bermitra dengan suatu perusahaan terbesar,
dimana yang menjadi *Manajer* besarnya ialah: Allah sendiri.
Adapun usaha yang terbesar diatas dunia ini ialah: “Menyelamatkan
jiwa-jiwa” (Winning of the souls). Arti
ayat ini, kita diminta supaya memasukkan atau membawa persepuluhan kedalam
rumah perbendaharaan Allah. Disini Allah
tidak berbicara mengenai berapa bunganya, apakah 5% atau 10% bilamana kita
masukkan atau memberikan persepuluhan itu, tetapi yang jelas dikatakan: “Aku
akan membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu
sampai berkelimpahan.” Pintu lebih besar
dari jendela. Dari pintu bisa keluar mobil,
dll. Jadi artinya disini, bahwa Tuhan
akan membuka lebar-lebar berkat-berkat bagi mereka yang memasukkan/membawa
persepuluhan tersebut.
Sebagai manusia, kita memerlukan beberapa kebutuhan vital dalam
kehidupan kita. Selain vitamin-vitamin
dan zat gizi lainnya, kita juga membutuhkan hal-hal yang berikut seperti:
i. *AIR*
– Manusia boleh hidup tanpa makan selama tiga hari, tetapi kalau tidak minum,
tentu mengalami problem karena air itu sangat penting untuk menghancurkan
makanan dan membuang sampah-sampah dalam tubuh.
Kita bersyukur kepada Allah atas tersedianya air untuk hidup kita.
ii. *UDARA*
– Apa yang terjadi kepada kita jikalau zat asam(CO2) yang ada di udara ini
ditarik oleh Tuhan?. Pernahkah rekening
udara dihadapkan kepada kita? Kalau pada
saat ini dihadapkan pertanyaan kepada kita masing-masing:”Berapakah utang
saudara dan saya kepada Allah.”?
2. Mari
kita buka Imamat 27:30: “Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil
benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah MILIK TUHAN, itulah
persembahan kudus bagi Tuhan.”
Allah mungkin berkata: “Memang benar, para petanilah yang menabur dan
yang menanam, namun Akulah yang menyiraminya.
Tanpa kuasa-Ku maka tanaman atau pohon-pohonan itu tidak dapat
bertumbuh. Aku yang menyirami dengan
hujan dan menyinarinya dengan matahari, namun Aku tidak pernah hitung itu.”
Disini, Allah hanya menuntut supaya kita memasukkan sepersepuluh dari
hasil pendapatan kita kedalam perbendaharaan Allah. Mungkin kita bertanya dalam hati:”Kalau saya
seorang pegawai kantor mempunyai gaji Rp.3000. 000,- per bulan, berapakah
persepuluhan yang saya harus kembalikan kepada Allah?.” Jawabnya ialah: Sepersepuluhnya, yaitu
sebanyak Rp.300.000,-(Tigaratus ribu rupiah).
Mengapa Allah itu harus menentukan jumlahnya sepersepuluh?. Mengapa kita tidak dibiarkan memberikan
sesuka kita saja?. Apa yang terjadi
kalau demikian?.
Biasanya manusia memiliki perasaan “ONE DOLLAR MORE”
( Se dollar lagi), atau selalu merasa
tidak cukup dan tidak puas.
Sudah dapat uang Rp.500. 000,- namun tidak puas dengan itu, ingin lagi
yang lebih banyak. Manusia cendrung
bergantung kepada perasaan. Apa yang
jadi kalau manusia bergantung kepada perasaan?.
ILUSTRASI:
Seorang ibu yang mau melatih anaknya bernama Nancy untuk suka
memberi. Pada suatu hari sang ibu
membeli permen dan memberikannya kepada anaknya Nancy. Kemudian ibunya mencoba meminta permen
tersebut dengan berkata: “Nancy,...mamy minta sedikit permennya, dong!.” Nancy mengulurkan tangannya untuk memberikan
permen itu kepada ibunya, tetapi setelah sampai dibibir ibunya tiba-tiba tangannya
ditariknya kembali. Jadi ibunya ber
ulang-ulang harus melatih PENURUTAN kepada Nancy, sampai pada akhirnya Nancy
memiliki sifat yang tidak mementingkan diri.
Demikianlah pula Allah ingin melatih penurutan kita, dengan menentukan
sepersepuluh itu. Jadi adakalanya kita
mengatakan: “Tunggu dulu,...mengapa tidak 1%.?”
Padahal sebenarnya, sang ibulah yang punya uang itu, namun ibu Nancy
tidak mengatakan: “Nancy,...kamu harus mengerti bahwa yang membeli permen itu,
adalah uang ibu.”
Saudaraku,...Kita tau bahwa: “Bumi adalah Tuhan punya serta segala
isinya.”*(Mazmur 24:1)* dan Tuhan juga yang punya segala perak dan emas” *(Hagai
2:9)*. Bahkan manusia sendiri adalah
kepunyaan Allah.
*UNTUK APAKAH PERSEPULUHAN
ITU?.*
“Persepuluhan itu diasingkan/ disendirikan untuk satu penggunaan
istimewa. Itu tidak boleh dianggap sebagai uang yang ringan. Itu adalah diabdikan
khusus bagi mereka yang membawakan pekabaran Allah bagi dunia ini, dan itu
janganlah dialihkan dari maksud/tujuan itu”.
E.G.
White, Counsels on Stewardship, hlm 103.
Mungkin orang mengatakan: “Benar, dunia ini adalah milik Allah, tetapi *tenaga saya* sendiri atau
sayalah yang berusaha sehingga saya menjadi kaya.” Apakah jawaban kita?.
Kita baca dalam Ulangan 8:18 “Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan,
Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh
kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang di ikrarkan-Nya dengan
sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” Tapi, tunggu dulu!. Bukankah dalam hal persepuluhan ini, Allah
berbicara kepada orang Yahudi saja?.
Kita harus catat bahwa Abraham, 430 tahun sebelum bangsa Yahudi berdiri
sebagai suatu bangsa, maka persepuluhan sudah dia berikan kepada Allah. Hal ini dinyatakan dalam Kejadian 28:22: “Dan
batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan
kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”
Bila kita baca Matius 23:23 berkata demikian:”Celakalah kamu, hai
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab
persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang
terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan
dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan
dan yang lain jangan di abaikan”.
Disini Yesus mengatakan bahwa persepuluhan itu penting dan itu adalah
merupakan prinsip yang menyangkut tabiat.
Ibu Nancy mau menanamkan suatu sifat yang tidak selfish(mementingkan
diri) kepada anaknya dan menanamkan pengertian kepadanya bahwa permen itu
sebenarnya bukanlah dia punya. Jadi
Allah minta 1/10 dari kita, bukan karena Allah itu miskin, melainkan
sebagaimana persepuluhan itu diberikan dahulu untuk menjadi kelangsungan ke
imamatan dalam kaabah, demikian pula persepuluhan itu diberikan sekarang ini
untuk penginjilan yang perlu kita teruskan kelangsungannya.
*ILUSTRASI:*
Saya mengenal seorang pemuda yang
tinggal di suatu tempat.
Kelihatannya dia adalah seorang yang baik. Saya mengenalnya sebelum dia dibaptis menjadi
seorang Advent. Pada akhirnya dia pun di
baptiskan. Tidak berapa lama kemudian,
dia telah diangkat menjadi bendahara Jemaat di gerejanya. Namun, tidak berlangsung lama karena
diketahui terbukti bahwa dia telah memakai uang gerea untuk keperluan
pribadinya sendiri.
Sungguh sedih perasaan kita bila memikirkan ada seorang umat Tuhan yang
mau mengambil yang bukan kepunyaannya.
Kita mungkin dengan mudah/cepat melihat selumbar dimata orang lain,
tetapi bagaimana dengan kita?. Berapa
diantara kita yang juga bersalah dalam hal yang sama?. Disini kita melihat bahwa kita dapat menipu
Tuhan, dengan jalan tidak memberikan/menyerahkan persembahan dan persepuluhan
dengan setia. Allah, bukan saja menuntut
persepuluhan, tetapi juga hati kita.
Mungkin seseorang dapat memberikan dengan sukarela kepada keperluan
gereja, tetapi Allah membenci pemberian seseorang jikalau orang itu sendiri
tidak mempersembahkan dirinya sendiri.
Yang pertama sekali, Allah menginginkan
hati kita dan barulah segala perkara yang lain itu bernilai dihadapan
pemandangan-Nya.
*Roma 12:1*
menyatakan: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan
kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang
kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Jadi mengapa kita perlu menyerahkan/membayar
persepuluhan?.
a. Karena
kita adalah milik Allah.
b. Supaya
kita merasakan alangkah senangnya bermitra(berkongsi) dengan Allah, bekerjasama
untuk menyelesaikan usaha yang besar itu, yaitu memenangkan jiwa bagi Kristus.
*ILUSTRASI:*
Pada
suatu kali, seorang anak berkata kepada ayahnya:”Ayah, saya bisa menimba air
itu.” Padahal, timba itu lebih besar
daripada anak itu sendiri. Anak itu pun
mencoba menimba air, namun anak tersebut dibantu oleh ayahnya juga.
Anak itu dengan gembira melapor kepada ibunya bahwa dia sudah dapat menimba
air.” Mendengar hal itu, ayah diam
saja.
Apa maksudnya?. Karena ayah ingin
membagikan kegembiraan kepada anak itu.
Demikianlah Allah ingin membagikan kesenangan-Nya kepada kita oleh setia
membayar persepuluhan. Banyak
orang-orang yang setia membayar persepuluhan telah menerima berkat-berkat
Allah. Sebagai contoh, antara lain:
*1. *WILLIAM
COLGATE*- Pemilik perusahaan pasta gigi Colgate. Dia membayar persepuluhannya sampai 3/10,
karena dia memperoleh berkat yang
berlimpah-limpah. Kalau seseorang merasa
berkat-berkat Allah maka membayar 10% atau lebih tidak terasa berat.
*2. *KESAKSIAN E.G. WHITE:* Ada seorang anggota kita yang baru dibaptis,
begitu dibaptis, dia kehilangan pekerjaan karena tidak mau bekerja pada hari
Sabat. Berhari-hari lamanya dia mencari
pekerjaan namun tiada berhasil. Tibalah
saatnya dimana keluarganya samasekali tidak mempunyai makanan lagi. Ada uang sisa yaitu sejumlah uang, yang sudah
diasingkan sebagai persepuluhan pada waktu menerima gaji. Pencobaan itu sekarang berat sekali. Namun saudara kita itu mengambil keputusan
dengan isteri bersama anak-anak mereka: *“supaya
lebih baik kelaparan daripada mengambil/memakai persepuluhan itu.”* Mereka menghadapkan keadaan mereka kepada
Bapa di sorga. Pada besok paginya
saudara kita tersebut menerima suatu panggilan untuk bekerja.
Saudaraku yang kekasih,... Disini dapat kita lihat betapa Tuhan
memberikan 100 kali ganda berkat-Nya bagi seseorang yang setia kepada-Nya. Jika kita setia membayar/menyerahkan
persepuluhan kita kedalam perbendaharaan Tuhan, yaitu ke gereja dimana kita
menjadi anggota tubuh-Nya, maka kepada kita Allah janjikan berkat-berkat
istimewa. Bila kita buka dan membaca
kembali *Maleakhi 3:10*,
disini juga Allah berkata bahwa: kita harus menguji-Nya dengan memberikan
persepuluhan dan sebagaimana Allah memberkati umat-Nya dengan membuka Laut
Kolzom pada zaman dahulu dihadapan Musa dan sebagaimana Allah memberkati Daniel
waktu bermalam dengan singa di gua singa, demikianlah juga kepastian berkat
Allah tidak berkurang hingga saat ini.
Kita boleh menuntut janji-janji-Nya itu.
*ILUSTRASI
:*
Ada seorang ibu yang telah kehilangatn semua uangnya.
Dirumahnya tidak ada lagi makanan dan mereka sudah lapar.
Kemudian ibu tersebut mengumpulkan anak-anaknya dan mengambil Alkitab
serta membaca cerita dari 1 Raja-raja fasal 17 tentang Elia yang dipelihara
Allah dan bagaimana Allah telah mengirimkan burung gagak untuk memberi makanan
kepadanya.
Ibu itu mengusulkan agar mereka berdoa supaya Allah mengirimkan
makanan. Setelah selesai berdoa,
putrinya yang kecil pergi membuka jendela.
Ibunya bertanya mengapa ia berbuat demikian (Membuka jendela?). Anak itu menjawab: “Bagaimana burung gagak
bisa masuk apabila jendela tertutup??.
*C.
KONKLUSI :*
Saudaraku yang kekasih,
Allah telah berkata bahwa Ia akan membuka tingkap-tingkap langit
bilamana kitapun mau setia mengembalikan persepuluhan kita kedalam
perbendaharaan-Nya.
Biarlah hal itu kita tunjukkan diwaktu-waktu yang akan datang, dengan
demikian pekerjaan Tuhan segera dapat diselesaikan dan apabila Yesus datang,
kiranya Ia dapat berkata kepada kita masing-masing: “Sabaslah, hai hamba yang
baik dan setiawan.”
Adakah anda bersedia bermitra dengan perusahaan Allah yang besar, yakni:
Menyelamatkan jiwa-jiwa untuk kerajaan Allah?.
Apakah saudara menyadari bahwa semua yang kita miliki sebenarnya
bukanlah milik kita, melainkan milik Allah?.
Apakah anda bersedia berjanji untuk memberikan Persepuluhan kepada Allah
Kita akan lajutkan kembali dengan pelajaran berikut. Tuhan Yesus memberkati.
Komentar
Posting Komentar