MEREDAKAN KETEGANGAN DALAM KELUARGA.
Disajikan oleh: Pdt. H.M. Siagian.
Kondisi kehidupan keluarga sangat fluktuatif. Kadang berada dalam suasana yang bahagia, nyaman, tenteram dan tenang. Namun kadang bergolak, ada suasana ketegangan yang membuat suami dan isteri tertekan secara psikologis sehingga tidak bahagia hidupnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi munculnya aneka suasana dalam kehidupan rumah tangga.
Perubahan suasana tersebut kadang begitu cepatnya.
Sebuah
keluarga yang semula demikian tampak bahagia dan ceria, tiba-tiba keesokan
harinya mengalami ketegangan dan konflik yang memuncak. Sebaliknya, keluarga
yang semula sudah berada di ambang kehancuran, tiba-tiba tampak sedemikian
mesra dan bahagia pada hari berikutnya.
Faktor- faktor penyebab ketegangan keluarga.
Setiap keluarga pasti pernah mengalami suasana ketegangan hubungan antara suami dan isteri, atau antara orang tua dengan anak. Ada dua jenis ketegangan yang biasa terjadi dalam kehidupan keluarga, yaitu ketegangan psikis dan ketegangan fisik.
Yang dimaksud dengan ketegangan psikis adalah suasana tidak nyaman yang terjadi antara suami dan isteri. Misalnya tidak nyaman untuk bicara, tidak nyaman untuk bercengkerama, sering salah paham dalam berkomunikasi, dan sering emosi terhadap pasangan. Suami dan isteri saling melukai perasan dan menyakiti hati pasangan.
Sangat
banyak faktor penyebab munculnya ketegangan dalam keluarga. Ada faktor
internal, yang bersumber dari suami dan isteri sendiri; dan ada faktor
eksternal, yang bersumber dari pihak lain di luar keluarga.
Faktor
internal bisa berupa temperamen suami atau isteri yang emosional, ketidakmampuan
menahan diri, ketidakmampuan berkomunikasi, sifat ego yang diikuti, ingin
menang sendiri, tidak mau mengalah, sulit meminta maaf, kesulitan ekonomi, dan
lain sebagainya.
Ketegangan dalam keluarga adalah konsekuensi dari interaksi tanpa jarak dan terjadi setiap hari. Suami dan isteri bertemu dan hidup di rumah yang sama, di kamar yang sama, di ranjang yang sama. Setiap saat berinteraksi dan berkomunikasi, tanpa jeda, tanpa batas waktu. Ketegangan juga muncul karena tingginya harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Dengan
kata lain, ketegangan hubungan adalah sebuah kemestian dalam kehidupan
keluarga. Yang diperlukan adalah upaya untuk meredakan dan meminimalisir
peluang kejadiannya. Suami dan isteri harus memiliki kesadaran dan ketrampilan
untuk mengelola berbagai faktor pemicu munculnya ketegangan, dan meredakan
ketegangan apabila sudah terlanjur terjadi.
Ada
banyak cara untuk meredakan ketegangan hubungan antara suami dan isteri, di
antaranya adalah:
Suami dan isteri menguatkan aktifitas spiritual dengan melakukan ibadah secara tekun. Misalnya suami dan isteri menyengaja untuk bangun tengah malam berdua, berdoa bersama untuk mendapatkan kebaikan kehidupan keluarga.
Atau secara rutin mengikuti Pekan Doa Rumah Tangga yang diadakan di gereja, menghadiri kebaktian kebangunan rohani (KKR) atau bentuk kebaktian rohani lainnya. Bila diberi tanggungjawab di gereja, dilakukan dengan baik karena dengan ikut terlibat dalam kegiatan rohani maka itu akan memberikan the greatest capacity for doing good ( kapasitas yang terbesar untuk melakukan kebaikan).
Kegiatan spiritual seperti ini diharapkan mampu menjauhkan dan meredakan
berbagai ketegangan hubungan antara suami dan isteri. Dengan suasana
spiritualitas keluarga yang terjaga, semua pihak akan selalu berusaha menjadi
orang yang terbaik. Menjadi suami yang ideal, menjadi isteri idaman, menjadi
orang tua teladan, menjadi anak-anak sesuai harapan.
Sesekali waktu suami dan isteri perlu meluangkan kesempatan untuk melakukan rekreasi berdua saja, atau bersama semua anggota keluarga. Rekreasi ini tidak mesti menuju tempat wisata yang jauh dan mahal. Suasana rekreatif bahkan bisa dilakukan di rumah sendiri, dengan jalan melakukan hal yang tidak biasanya. Misalnya, makan malam berdua di teras samping rumah, atau mengobrol berdua di kebun belakang rumah, atau tidur di tenda yang dipasang di halaman belakang.
Kegiatan rekreasi diperlukan untuk menghindarkan kejenuhan akibat
kegiatan yang rutin dan monoton dalam keluarga. Ketegangan bisa muncul karena
suasana yang monoton, mekanistik, rutin dan membuat kejenuhan yang bertumpuk.
Tidak ada variasi dan tidak ada rekreasi, membuat ketegangan mudah muncul.
Harapannya, dengan kegiatan rekreasi keluarga, membuat suasana segar,
mengendurkan syaraf, meredakan ketegangan sehingga suasana menjadi nyaman dan
tenteram,
Di antara hal yang bisa meredakan ketegangan dalam keluarga adalah kegiatan sosial. Aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, membantu tetangga, menolong orang yang memerlukan, mengunjungi panti yatim piatu, menjenguk orang sakit, dan lain sebagainya, menjadi sarana untuk meredakan ketegangan hubungan antara suami dan isteri. Dengan kegiatan sosial, suami dan isteri dituntut untuk memberikan contoh keteladanan bagi masyarakat sekitar, minimal ada perasaan malu apabila ada keributan dalam keluarga mereka.
Selain itu, kegiatan sosial akan memberikan sikap empati atas masalah
dan penderitaan yang dialami orang lain, sehingga diharapkan menjadi suatu
pelajaran berharga bagi suami dan isteri untuk kembali ke rumah dalam suasana
yang bahagia. Mereka bisa melihat kesulitan yang dialami banyak kalangan
masyarakat, sehingga akan memberikan pelajaran penting agar selalu menjaga
keutuhan keluarga.
Mari kita buka firman Tuhan dalam :
Lukas 11:17 “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan
setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh”.
Roma 15:5 “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan,
mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus”.
Komentar
Posting Komentar